April Project - Sebuah Antologi Cerpen Blogger Indonesia - 2005

 

 

Orang-orang Maya

(halaman 1 dari 2)

 

Bagja Hidayat, seorang jurnalis, blogger, yang kualitas tulisannya tidak diragukan lagi.

This one is a must read story.

11 Januari 2001
Aku diperkosa suamiku tadi malam. Bukan karena ia memaksa, tapi pikiranku sedang jauh ke Eropa, pada Zaki yang mungkin kedinginan di Paris. Ingatanku sudah tak di sini lagi ketika dia berkirim
e-mail mengabarkan akan segera meninggalkan Indonesia untuk beberapa waktu. Sempat terlintas untuk mencegahnya pergi. Tapi, sudahlah...

Mataku memar.

Suamiku makin seperti badut saja. Dia pikir aku tidak tahu jika pulang larut itu dia tidak habis meniduri sundal itu. Kami bertengkar hebat, seperti biasanya. Dan, seperti biasanya pula, dia memperkosaku! Kapan dia mati tertabrak kereta? Atau terpeleset di toilet. Tuhan, kalau masih ada ruang untuk menerima doaku, cabutlah segera nyawa suamiku itu, dengan caramu yang paling keji.

Zaki, aku ingin kamu ada di sini. Aku ingin mencium tengkukmu yang mengkilap-kokoh itu. Aku ingin bercinta di kolong kursi, seperti angan-angan kita dulu. Tidakkah kamu kedinginan di sana? Zaki, aku ingin kamu! Aku butuh kamu! Sebelum aku....

 

ZAKI melongo di depan laptopnya.

Hari sudah malam, tapi matanya belum juga bisa terpejam. Padahal, rapat maraton dengan para bos sepanjang hari begitu membosankan dan melelahkan. Rasa lelah itu seperti hilang ketika membaca tulisan terakhir Amel di blognya. Amelya Putri namanya. Tapi ia tak percaya itu nama sungguhan. Setiap orang bisa memakai beragam nama dengan beragam identitas di internet. Tapi nama memang perlu untuk sekadar menyapa atau membedakan dari nama yang lain. Maka Zaki menerima nama itu tanpa menyoal apakah itu asli atau rekaan.

Amel, sadarkah dengan apa yang kamu tulis?

 

SEJAK mengenal blog setahun lalu, Zaki banyak berkenalan dengan para blogger, sebutan untuk penulis buku harian di internet, dari seluruh penjuru dunia. Tapi dia lebih senang berkenalan dengan para blogger, terutama yang perempuan, dari Indonesia, meski bisa saja mereka tinggal di Amerika, Paris, Kanada, atau Jerman. Setiap blog biasanya juga menyimpan alamat blog lain, sambung-menyambung terus membentuk sebuah jaringan. Ia akan berselancar dari satu blog ke blog lain, meninggalkan pesan di fasilitas komentar di setiap tulisan atau kotak obrolan, kemudian mengunjunginya kembali keesokan hari.

Ia sendiri tidak punya blog. Zaki hanya jadi pembaca yang setia beberapa blog yang ia sukai. Blog Amel adalah satu dari puluhan blog yang selalu ia buka setiap hari. Zaki menemukan alamat Amel saat sedang berselancar ke sambungan alamat blog lain yang ia sendiri sudah lupa alamat pertama yang dikunjungi. Matanya tertambat pada sederet cerita Amel tentang Bromo.

Amel baru saja pulang dari pegunungan dingin itu. Dengan gaya narasi, Amel menceritakan setiap detil kunjungannya. Lalu Zaki, yang juga mengunjungi Bromo tepat di hari Amel datang ke sana, menulis komentar yang pertama, "Jangan-jangan sebenarnya kita ketemu.”

Di papan komentar itu pula, Amel membalasnya dengan menjelaskan lebih detil jam berapa ia datang, lalu memotret di tangga berapa, dan berdiri di pinggiran kawah sebelah mana. "Eh, gue juga di sana lagi," Zaki balik lagi mengomentari. Amel kemudian mengirim surat-e ke alamat yang ditinggalkan Zaki di papan komentar itu. Dari situ keduanya jadi sering bercengkrama lewat e-mail dibanding berbalas komentar di blog, meski Zaki masih rutin membaca tulisan-tulisan Amel di sana.

Dari e-mail itulah Zaki kemudian tahu pemilik blog itu bernama lengkap Amelya Putri dari nama yang tercantum dan, tentu saja, pengakuannya sendiri. Tak ada perkenalan yang lebih dari itu, sekadar nama lengkap atau nomor telepon. Pikir Zaki, untuk apa juga nomor telepon, hubungan mereka telah intens melalui chatting. Fasilitas itu sudah membuatnya lebih dari sekedar bertemu. Di sana lebih bebas dari sekedar pertemuan, lebih leluasa dari sekadar perbincangan. Ia, juga mereka, tak memerlukan sebuah ruang pertemuan secara nyata. Juga sederet nama lengkap. Zaki merasa sudah jauh mengenal Amel hanya dari secuil identitas yang terpampang di blog berhalaman ungu itu : Amel, 28, financier, Jakarta. Pikir Zaki, Amel juga mungkin seperti dirinya, orang yang tak selalu percaya pada identitas di internet

 ke atas

Hampir sepanjang hari, selama di kantor, di sela pekerjaan menghitung angka-angka, mereka saling bertukar cerita. Jika pada awal-awal Zaki selalu menyapa lebih dulu, selanjutnya tak jelas lagi siapa yang pertama menyapa lalu memulai cerita. Siapa yang pertama online, dialah yang mengirim pesan lebih dulu. Selalu saja ada hal yang enak diceritakan. Masing-masing mengaku telah menemukan orang yang cocok untuk diajak berbagi cerita.

“Kamu smart,” puji Zaki.

“Hmm, waow. Jangan menilai terlalu dini.”

“Apakah terlalu dini jika aku telah mengetahui pikiran-pikiranmu, cita-citamu, khayalanmu, hal yang kausuka, kaubenci, kau...”

“Ah, kamu seperti melihat kebenaran dari lubang kunci.”

Well, mungkin juga. Tapi aku merasa sudah mengenalmu.”

“OK. Percayakah kamu jika aku juga merasa seperti itu?”

Really?”

“Yeah.”

“Jangan menilai terlalu dini :))”

“Huuu, jangan membalik, ya.”

“Dari apa kamu merasa sudah mengenalku?”

“Hmm. Dari pikiran-pikiranmu, cita-citamu, khayalanmu, hal yang kausuka, kau...”

“Hahah. Coba apa khayalanku saat ini?”

“Hmmm, apa ya, bercinta di kolong kursi...”

“Hahahah. Fantasi kamu liar... Tapi, jujur saja, aku suka.”

“Huuu.”

“Btw, suamimu tahu alamat blog kamu?”

“Kalaupun tahu memangnya kenapa?”

“Yaa, kali aja dia tahu.”

“Ah, sudahlah, gak asik ngomongin badut brengsek itu.”

 
1 2
Untuk menjadi perhatian,
semua tulisan di sini adalah karya dan hak cipta penulis masing-masing. Dilarang menerbitkan kembali tulisan cerpen (dalam bentuk apapun), tanpa sepengetahuan dan seizin penulis yang bersangkutan.
Copyright ©2007 Designed by cinila.com  - contact