ZAKI masih melongo di depan laptopnya. Hari semakin larut. Besok, ia ditunggu jadwal presentasi rencana pengembangan divisi di depan para bos perusahaan asing tempatnya bekerja. Tapi, kantuk tak juga kunjung datang. Badannya capai, tapi mata tak kunjung lunglai.
Ia menarik napas, panjang dan berat. Pikirannya menerawang menembus belahan dunia lain. Jakarta mungkin sudah menggeliat mengantarkan penduduknya pada kesibukan kerja dengan kantuk di pelupuk. Jalanan sebentar lagi macet. Para joki berebut menawarkan jasanya. Di sanalah, Zaki membayangkan, Amel menyetir mobilnya dengan gerak gegas karena bangun kesiangan. Ia habis bertengkar dengan suaminya tadi malam. Dia selalu begitu. Setiap Senin selalu saja bangun kesiangan. Setiap Senin pula cerita tentang suaminya yang selalu main kasar menjadi menu utama chatting mereka.
Zaki menyemburkan asap rokok dari mulutnya keras-keras. Ia mengangkat kedua kaki dan menyilangkannya di atas meja di samping laptop yang masih menyala. Di sana tampilan halaman muka blog Amel mencorong menyemburkan kalimat-kalimat yang lugas dan penuh amarah. Baru kali itu ia membaca tulisan Amel sepedas itu, di blog pula. Selama ini, seperti pengakuannya, hanya Zaki orang yang dijadikan tumpahan curhat-curhatnya. Sudah ada 10 penanggap untuk tulisan itu.
Rata-rata mereka perempuan. Hanya satu, Rini, yang tak punya alamat blog. Ia mengaku tersesat masuk ke blog Amel karena sedang mencari artikel tentang psikologi rumah tangga di mesin pencari. Di akhir komentarnya, Rini berjanji akan mengunjungi blog Amel lain kali, karena, "Aku suka dengan tema yang kamu tulis."
Sembilan penanggap lainnya adalah mereka yang alamat blognya juga tercantum di blog Amel. Mereka melontarkan komentar dan meledek Amel sedang jatuh cinta kedua kali.
"Huh, suamimu itu memang sudah seharusnya mati. Eh, jangan, ding, buat aku sajalah, hihihi," tulis Re, blogger yang mengaku perempuan dan tinggal di Yogyakarta. Ia menuliskan pengalamannya bercinta dengan pacar-pacarnya. Kendati masih mahasiswa Fakultas Ekonomi semester lima, Re fasih betul menceritakan adegan percintaan yang ganas. Ia menguasai diksi yang jorok dan nakal.
“Gak nyangka, cuma Zaki fantasimu!”Ini komentar Melinda.
“Ki, udah lu apain si Amel ampe mabok gini? Lu kasih pelet bulu perindu, ya?”
“Mau dong mencium kokohnya tengkuk Zaki.”
Komentar lain tak kalah seru dan saru. Mereka tak pernah bertemu, tapi internet sudah membuat mereka begitu akrab.
Zaki menyalakan sebatang rokok lagi. Menghembuskan asapnya keras-keras.
Salju turun renyai. Jatuh pelan-pelan di kaca hotel lantai 20. Lampu-lampu serupa kunang-kunang di hamparan semesta Paris yang terungkup gelap. Kerlap-kerlipnya makin menambah hati gundah. Zaki harus mengakui juga telah terkesan oleh cara Amel mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya. Kesan itu kemudian melahirkan rasa iba setelah setiap pagi ia digempur cerita perselingkuhan suaminya, ketersiksaannya menjalani perkawinan yang tak diinginkannya, atau beragam julukan untuk suaminya, yang pada intinya bermuara pada sebuah makian dan cercaan. Iba yang melahirkan empati. Empati yang melahirkan kekaguman sekaligus kekhawatiran.
Ini pula yang membuatnya tertegun di blog Amel ketika membaca setiap baris kalimatnya saat surfing dulu. Kata-katanya tegas, kalimatnya lugas dengan sudut pandang yang cerdas. Ia tertegun sebelum menuliskan sekelumit komentar yang kelak akan membuka hubungan yang lebih intim dengan Amel, kendati hanya secara virtual.
Zaki harus mengakui pula bahwa ia senang tiap kali chatting dengan Amel. Maka, setiap pagi ia selalu bersemangat pergi ke kantor dan membuka komputer. Biasanya di sana sudah menunggu satu-dua pesan offline dari Amel. "Hi, buddy" atau "Are you there, hubby?" Melalui obrolan di chatting pula, Amel mengaku jadi semangat kerja setelah rutin bercengkrama dengan Zaki.
“Tidakkah kamu ingin bercinta di kolong kursi?”
“Uh, sempitnya dunia ini.”
“Eh, kamu belum nyoba ya?”
“Hmm, boleh juga tuh.”
“Ah, seandainya kamu di sini....”
“Mau diapain?”
“Kuperkosa di kolong kursi.”
“Hahahah.”
Rentetan peristiwa selama berhubungan dengan Amel berlintasan saling susul di kepala Zaki. Jarinya menekan puntung rokok ke asbak yang hampir luber. Meraih bungkus rokok dan menyalakan satu batang lagi. Ia menyesal kenapa waktu itu menolak bertemu dengan Amel jika dia ternyata amat mengharapkan kehadiran dirinya. Bukan menolak, tepatnya. Ia masih harus menyelesaikan satu bahan presentasi di depan bosnya di Jakarta sebelum dibawa ke Paris. Itu hari terakhir dan Amel mengaku hanya saat itulah dia punya waktu luang. “Aku sudah hampir meledak,” begitu e-mail terakhir yang ditulis Amel.
Zaki menyedot rokok lagi dalam-dalam. Menurunkan kaki dan jari-jari tangannya kini sudah berada di atas tuts laptopnya. Ia membuka inbox. Hanya beberapa pesan dari kantornya yang berisi bahan pelengkap presentasi. Tak ada dari Amel. Aneh juga, pikir Zaki, kenapa dia tak berkirim e-mail saja, malah menuliskannya di blog. Edan juga, pikir Zaki. Menuliskan fantasi di blog hanya mengundang ledekan dari blogger lain dan membuka peluang orang yang kesasar ke alamatnya akan menilai Amel perempuan murahan. Tapi begitulah Amel, parempuan maya yang dikenalnya.
Dia mulai menuliskan pesannya.
13 Januari 2001
Amel sayang,
Saat kamu baca e-mail ini, aku mungkin masih tidur lalu tenggelam lagi dalam rapat yang membosankan. Sori, ya, kalau membuat kamu sebel. Sungguh, aku tak punya waktu buka komputer. Tapi tak apa. Hari terakhir. Lewat besok, aku sudah bisa liburan. Huhu, menyenangkan sekali. Jangan ngiri, ya, hihihi.
Aku baca posting terakhirmu. Tadinya aku mau tulis ini di komen saja, tapi tahu sendiri kan apa yang keluar dari si cerewet Stacy. So, aku tulis aja di e-mail ini.
Jangan gitu, dong, sayang. Aku jeri sekaligus makin iba membaca kalimat-kalimatmu. Aku tahu, kamu tak suka jika aku iba. Tapi itulah yang kurasakan saat membaca tulisanmu. Sampai berdoa agar suamimu ditabrak kereta api segala. Tidak bisakah kamu tak peduli?
Duuh, aku tersanjung sekali jika benar Zaki itu adalah aku. Kamu tak pernah cerita punya teman lain bernama Zaki juga. Sekali lagi, jika benar Zaki itu adalah aku, aku sangat tersanjung sekali. Melayang deh rasanya :-)). Apa maksud kamu dengan kalimat terakhir, “Sebelum aku...” Jangan bikin khawatir. Aku sedih jika kamu sedih.
Terus terang aku kaget, sebegitu liarnya fantasimu (seharusnya aku tak kaget lagi, tapi itulah reaksiku). Aku tak bisa tidur memikirkan tulisanmu itu. Jadi benar kamu ingin bercinta di kolong kursi? Kupikir itu bercanda. Ternyata aku memang belum terlalu mengenalmu, aku mungkin terlalu dini mengaku telah mengenalmu. Maafkan aku.
Bagaimana bisa kamu membayangkan aku punya tengkuk yang mengkilap dan kokoh. Aku termasuk orang yang jarang olahraga, lho. Body language saja males. Hari Minggu mending tidur seharian. Mau ngajak kamu jalan takut kena semprot suamimu :-)) Oke, deh, aku sudah ngantuk. Take care, bebeh. Tetep tabah, ya. O ya, jangan lupa memarnya dikompres.
Salam dari Paris,
with love,
Zakia
PS : Lusa mungkin aku bisa online, kalo sempat kita chatting, yuk.
ZAKI menutup laptop. Handphone-nya berbunyi. Sebuah pesan pendek. “Heh, knp td mlm hp dmatiin?!!” Dari Bagas, suaminya, penuh curiga.