April Project - Sebuah Antologi Cerpen Blogger Indonesia - 2005

 

 

Orang Bilang...

(halaman 3 dari 3)

 

Di belahan dunia yang lain, Arman sedang berkumpul dengan temen-teman barunya. Mereka sedang berdiskusi mengenai cara pemasaran yang baik. Arman yang sekarang kuliah di Belanda dan mengambil jurusan managemen bisnis selalu disibukkan dengan membaca diktat dan berdiskusi. Ia selalu percaya bahwa dengan berdiskusi, maka ilmu yang diserap akan lebih mudah dipahami.

Perbedaan waktu antara Belanda-Jakarta membuat dia mengurungkan niatnya untuk menelepon cintanya. Sampai pada akhirnya, ketua diskusi memutuskan untuk coffee break.

“Ya udah, kita break dulu aja. Nih pada mau makan siang gak? Aku bikinin sandwich spread aja ya,” kata Yoga, anak tahun kedua yang sudah lama tinggal di Belanda.

Arman cuman berpikir sambil menuju jendela besar dimana dia bisa melihat kapal-kapal yang lewat dan jembatan yang buka tutup kalau ada kapal yang lewat.

“Jingga ngapain ya?” pikir Arman.

Biasanya kalau malem minggu begini, pasti Arman keluar bersama Jingga, dan biasanya kalo jam-jam ini, Jingga masih mau di rumah dulu, sambil diskusi untuk kuliah seminggu ke depan. Biasanya Jingga masih memakai baju rumah dan males keluar kalau belum selesai diskusi. Malam minggu yang unik, hanya dengan Jingga, Arman bisa mengalami malam minggu penuh diskusi dan cerita-cerita konyol sebelum akhirnya keluar tidaknya tergantung pada minggu keberapa. Ah, Jingga dan segala kelucuannya. Dalam satu bulan, ada dua kali malam minggu yang seutuhnya, yang isinya jalan-jalan dan keluar bareng, dan dua minggu sisanya hanya di rumah dan belajar.

“Bro, aku telpon dulu ya, 10 menit lagi balik kok,” kata Arman pada Miki, anak pinter dari kelasnya.

“Yo,i!” jawab Miki cuek dan terus berkutat dengan remote kontrol TV di tangannya.

Dengan cekatan, Arman menekan tombol-tombol angka di handphonenya. Nada tunggu dengan cepat memenuhi telinganya. Tidak lama kemudian, telpon di Indonesia diangkat.

“Halo, Jingga nya ada?” kata Arman agak sedikit kaku. Setelah dua bulan pergi dari Jakarta, ia takut JIngga sudah lupa suaranya, walaupun dia sadar, 2 tahun bukan waktu yang singkat untuk menghafalkan suaranya.

“Arman?” Tanya suara di seberang sana.

“Sayang enggak keluar?” tanya Arman langsung setelah menyadari bahwa pacar tercintanya yang mengangkat telpon pada dering kelima.

“Enggak, lagian kan ini minggu diskusi.. hehe.. Aku tadi seh cuman dandan aja, sambil nyanyi-nyanyi. Abisnya enggak ada kamu, enggak ada yang jemput deh. Males banget keluar. Ibu lagi reuni, neh aku sendirian di rumah. Pengen telp Neen, tapi dia kayaknya enggak di rumah. Eh, Sayang apa kabar?”

“Aku lagi kangen kamu. Tadi lagi diskusi ama temen-temen, sekarang lagi break, semua pada laper.. hehe.. Yank baik-baik aja kan?”

“Iya lah.. baik-baik aja.. “

“Udah ada yang daftar belum?” goda Arman yang menyadari bahwa pacarnya termasuk daftar cewek most wanted di Kampus Depok.

“Enggak ada yang berani daftar, ada seh yang iseng-iseng tanya ke Neen, tapi Neen dengan tegas bilang kalo aku masih sama kamu. Jadinya cowok-cowok iseng pada mundur.. hehe..” jawab Jingga dengan cengengesan

“Yank, Yank masih berpikir bahwa kita harus putus kah?” Tanya Arman tiba-tiba mengalihkan subyek pembicaraan

“Lha kok malah ngomongin ini sih. Yank kan telp bukan untuk nanyain ini kan?” Jingga cuman gugup, menyadari bahwa cowok yang bernama Arman ini masih bertahta di hatinya, selalu.

 ke atas

“Yank, aku cuman kuatir aja. Aku enggak mau kalo Yank ngerasa tersiksa karena hubungan kita. Yank tau kalo aku sayang banget ama Yank dan pengen ama Yank terus meski aku jauh. Toh kita masih berhubungan lewat telp, sms, imel. Cuman aku pikir-pikir setelah itu, Yank pasti banyak yang lagi di waiting list en nunggu Yank single, ya kan? Aku cuman ngeliat kenyataan dan aku enggak boleh egois untuk terus-terusan memaksa hubungan yang cuman bikin Yank sakit hati” jelas Arman panjang lebar.

Mendengar itu, Jingga cuman menarik nafas panjang.

“Yank, aku tau, Yank enggak bisa dan enggak pernah bisa hubungan jarak jauh kayak gini. Lagipula, aku disini masih 3 tahun lagi. Aku enggak mau Yank sakit hati terus-terusan kalo gini”

“Arman sayang, aku sayang kamu, dan kamu tau itu. Kamu juga tau gimana aku luar dalam dengan keputusan kamu untuk pergi ke Belanda. Kamu tau pasti apa yang aku rasakan kalo kamu enggak ada di sampingku. Kamu tau semuanya. Kamu tau kalo aku mencoba sepenuh hati untuk jaga hubungan kita. Kamu tau itu semua kan? Kamu yakin bahwa aku sayang kamu, ya kan Sayang?” jelas Jingga dengan mata berkaca-kaca, dan hampir saja tumpah.

“Ya”, jawab Arman singkat.

“Yank, kayaknya mendingan kita berteman aja deh”, ucap Jingga dengan suara berat.

“Bukan karena apa-apa, cuman aku enggak mau pikiranku terganggu dengan ketidakhadiranmu. Aku cuman enggak bisa kalo enggak ada kamu. Aku butuh kehadiran kamu, aku butuh ngeliat kamu. Butuh denger suara kamu langsung, jalan ama kamu, diskusi sambil minum kopi dan makan kue, butuh untuk jalan-jalan ama kamu” suara Jingga terdengar sedikit penuh emosi.

“Ya, aku tau,” ucap Arman singkat, datar, menyadari bahwa itulah yang akan didengarnya.

“Arman, aku minta pengertian kamu untuk aku. Aku minta kamu untuk ngelepas aku dan merelakan hubungan kita. Itu aja, aku tau bahwa ini pasti sakit banget buat kita berdua, tapi ini kenyataan. Toh, kita berdua percaya pada takdir dan nasib kan?”

“Iya, aku akhir-akhir ini emang mikirin kamu dan hubungan kita. Dan aku sadar bahwa aku cuman cowok egois yang mau mengikat kamu, padahal kamu enggak bahagia. Aku dan kamu tau bahwa ini adalah resiko pacaran jarak jauh, tapi aku dan kamu tau bahwa kamu bukan orang yang bisa pacaran jarak jauh, dan aku cuman memaksa kamu. Maafin aku ya,” pinta Arman tulus, menyadari bahwa ia akan kehilangan seorang yang sangat berarti baginya dan telah memenuhi hari-harinya selama dua tahun terakhir ini.

Orang bilang jadi single itu susah, apalagi kalo sudah terbiasa punya pacar. Orang bilang jadi single itu enggak enak, karena enggak ada yang bisa dimanjain. Orang bilang jadi single itu tabu, karena itu nunjukkin kalo kamu enggak laku di dunia percintaan. Orang bilang jadi single itu membosankan, malem mingguan enggak pernah romantis. Orang bilang kalo orang jomblo pede itu cuman tipuan belaka. Orang bilang ini itu, orang bilang semuanya.. orang bilang!

Tapi orang enggak pernah bilang bahwa orang single itu enggak susah, toh dulu waktu lahir juga enggak punya pacar, nah kalo emang sekarang enggak punya pacar apa susahnya? Orang enggak pernah bilang kalo kemandirian didapat dari kesendirian, enggak bergantung pada orang lain. Orang enggak pernah ngomong kalo jadi jomblo adalah sebuah keputusan dan pilihan, bukan melulu sebagai korban karena enggak laku. Orang enggak pernah kasih pengumuman kalo malem mingguan ama orang tua sendiri bisa sangat menyenangkan en fun. Orang enggak pernah ngasih tau kalo jomblo pede tuh mungkin banget, toh banyak artis-artis yang masih jomblo en mereka asik-asik aja dengan kehidupan mereka. Orang cuman ngejudge, enggak pernah ngasih alasan yang jelas. Orang gak pernah bilang semua itu!!!

Here Without You-3 Doors Down

28 Maret 2004.
 
1 2 3
Untuk menjadi perhatian,
semua tulisan di sini adalah karya dan hak cipta penulis masing-masing. Dilarang menerbitkan kembali tulisan cerpen (dalam bentuk apapun), tanpa sepengetahuan dan seizin penulis yang bersangkutan.
Copyright ©2007 Designed by cinila.com  - contact