April Project - Sebuah Antologi Cerpen Blogger Indonesia - 2005

 

 

Kehidupan yang Lain

(halaman 3 dari 3)

 

Apa ya, kira kira yang dikerjakan Abi sekarang, karena Abi mulai kerja lebih dulu dari Erin mestinya jabatannya lebih senior, mungkin dia sudah mempunyai asisten. Atau mungkin dia akan dipromosikan, karena setiap mendengar cerita cerita Abi, dia selalu menceritakan ide-idenya yang brillian, dan menceritakan betapa perusahaan yang ia berada sekarang merasa beruntung mempunyai pegawai seperti Abi. Erin mulai menghitung hitung, berarti berapa ya gaji Abi sekarang, mestinya jauh diatas dari Erin. Walaupun Erin baru mendapat kenaikan gaji sebulan yang lalu, tapi itu setelah Erin sadar bahwa ketika mereka bernegosiasi gaji, Erin sudah ditipu, ia kurang riset, kurang tau nilai gaji di level seperti dirinya saat itu. Tentunya Abi tidak mungkin melakukan kebodohan seperti Erin, pasti dia bernegosiasi seperti layaknya orang-orang yang sudah profesional. Erin menggigit-gigit pulpennya, mata Erin melirik waktu di sudut layar komputer sudah jam setengah tujuh. Satu hari di kehidupan Erin pun selesai, besok adalah hari baru. Erin mulai mengangkati cangkir bekas kopi didepannya, dan mengangkat tas kerjanya. Aku mau pulang, gumamnya.

Kantor United Pacific terletak hanya beberapa kilometer dari pusat kota, pada jam enam sore di hari jumat, kantor itu sudah hampir kosong. Namun kalau ada yang bisa melihat kelantai 2 bisa terlihat seorang gadis, berambut ikal panjang, bermata belok, bermuka manis, tidak berkata sepatah kata pun, gadis itu sedang menatapi layar komputer didepannya.

 ke atas

“Selalu aku yang ditugaskan untuk mengetik surat-surat untuk korespondensi bapak-bapak direktur, apakah mereka lupa aku ini bukan sekertaris, mentang-mentang aku yang paling junior aku selalu kebagian tugas-tugas yang orang lain tidak mau”, pikirnya kecut.

Gadis itu mencomot pulpen dari sorokan lemari disebelah mejanya, sorokan itu penuh dengan pulpen yang telah digigiti ujungnya.

“Ugh kebiasaan jelek memang, hanya satu orang lain yang masih melakukan hal ini, Erin”, pikirnya.

“Sedang apa ya anak itu, Erin selalu saja kelihatan bahagia, lulus dengan nilai gemilang, selalu tersenyum, tidak seperti aku ini,” gumamnya.

Gadis itu menyingsingkan baju kemejanya dari pergelangan tangannya, bekas luka-luka goresan silet masih terlihat merah,dengan hati-hati gadis itu pun meluruskan lagi kemeja lengan bajunya sampai akhirnya bekas luka-luka itu tidak terlihat lagi.

 
1 2 3
Untuk menjadi perhatian,
semua tulisan di sini adalah karya dan hak cipta penulis masing-masing. Dilarang menerbitkan kembali tulisan cerpen (dalam bentuk apapun), tanpa sepengetahuan dan seizin penulis yang bersangkutan.
Copyright ©2007 Designed by cinila.com  - contact