April Project - Sebuah Antologi Cerpen Blogger Indonesia - 2005

 

 

Cukup Suara Kamu

(halaman 1 dari 3)

 

Lala Cinila, menulis cerpen sebagai pemula. Cerpen ini datang dari rasa kuatir dan kesedihan seorang perempuan.

Dan akhirnya perempuan tegar adalah inspirasi sesama.

Telefon genggamnya tiba-tiba bergetar, pelan lalu berangsur cepat dan keras. Lelaki setengah baya itu dapat merasakan getarnya di saku celana pantalon yang sedang dipakainya. Hatinya bertanya, setengah mengeluh, siapa yang menelefon tengah malam begini. Meskipun enggan menerima telefon, refleks tangan kanannya merogoh saku celana dengan cepat. Namun ternyata kecepatan tangannya terlambat sepersekian detik. Ketika nada ring tone telefon itu berbunyi, rasa ingin tahunya langsung terjawab, sang telinga mentransferkan memori ke otaknya, memberitahukan siapa yang menelefonnya tengah malam itu, saat ia di depan komputer di sudut café nyaman dengan cahaya lilin-lilin berwarna warni di setiap meja dan lagu-lagu jazz melankolis. Saat itu Norah Jones sedang melantunkan lagunya yang dahsyat.

Café mungil itu tempat favoritnya menghabiskan malam. Orang-orang akan menyapanya dengan hangat di sana, berbicara dengannya tentang kabar terbaru hari itu, tentang kasak-kusuk bagaimana partai A memenangkan Pemilu di tempatnya atau tentang kucing tetangga yang mencuri persediaan ikan di dapurnya. Bangunan tua peninggalan kolonial Belanda itu memiliki daya tarik sendiri, dicat merah bata dan di setiap luasan dinding bagian dalam dipasang lukisan-lukisan kontemporer karya-karya pelukis muda, khas sekali. Inspiratif dan dekoratif. Di sudut ruangan adalah internet corner, sebuah sudut yang menyediakan tempat untuk orang seperti dirinya mengakses internet. Orang seperti dirinya.. errghh yang untuk menikmati malam, mengistirahatkan diri dari rutinitas kantor pun mesti harus ada di depan komputer. Ah terkadang heran juga kenapa semakin lama semakin sulit melepas kehidupan virtualnya. Seperti candu saja, ah bukan.. ini seperti kebutuhan pokok, makan, minum, berpakaian. Orang-orang seperti dia. Huh!. Hanya café itulah tempat kesukaannya menghabiskan malam, bukan karena komputer rumahnya tidak bisa tersambung dengan dunia maya, tapi lebih kepada suasana di sana. Suasana yang membalutnya dengan seribu kenangan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun yang lalu.

Ring tone itu, military march. Jantungnya berdetak cepat.

“Oh my god, it’s her!”

Sejumlah citra bergerak dalam otaknya, seperti slide film yang berputar cepat, sebentar indah sebentar suram, kelam. Perempuan itu. Ah perempuan itu. Cantik, muda, dan cerdas. Tidak semua orang dianugerahi Tuhan seperti itu. Semacam hujan rintik di penghujung musim kemarau. Sesuatu yang dinanti-nanti semua orang.

Telefon genggamnya hampir lepas dari pegangan tangan yang tiba-tiba licin oleh keringat dan bergetar pula dengan hebat. Hampir tak bisa dikuasainya hati dan pikirannya. Panik. Bukan oleh rasa takut, bukan pula rasa bahagia, hanya panik. Jantungnya berdetak cepat, mungkin rasa rindu tapi juga bercampur getir.

Setengah tahun lalu lelaki itu jatuh cinta pada perempuan itu. Ummh persisnya pada tulisan-tulisan perempuan itu di internet, di sebuah weblog. Sebuah web yang selalu di update secara berkala, biasanya berisi cerita keseharian atau buah pikir sang pemilik web. Tulisan perempuan ini selalu memberinya sesuatu untuk dipikirkan, untuk dibenarkan atau untuk disalahkan. Setiap tulisan di sana membawanya ke dunia unik perempuan itu. Jalan pikiran dan kehidupannya. Tentang orang-orang yang ditemuinya, tentang kelinci kecilnya, tentang malaikat pelindungnya. Suatu hari inilah yang dibaca lelaki itu.

Saya ini Beginilah, seorang perempuan.
15 September 2003

Ya beginilah adanya, saya perempuan. Saya tidak pernah tahu kenapa terlahir perempuan, kenapa saya bukan lelaki saja?

 ke atas

Tidak.. saya bukannya ingin jadi lelaki.. saya cuma berpikir tentang kenyataan bahwa saya adalah perempuan. Apakah karena ibunda saya memang menginginkan saya, anaknya, sebagai perempuan lalu Tuhan mengabulkan keinginan itu, ataukah memang Tuhan yang maha berkuasa itu menciptakan begitu saja bahwa anak yang dikandung ibunda saya waktu itu adalah perempuan.. saya tidak tahu.

Ya beginilah adanya… dan saya tidak pernah mempertanyakannya kepada siapapun.. kenapa saya terlahir sebagai perempuan. Tidak. Tuhan menciptakan manusia berpasangan supaya saling melengkapi. Benar begitu kan?

Lelaki itu lalu tidak bisa menahan dirinya lagi. Biasanya dia tidak mau berkomentar di halaman itu. Biasanya dia hanya berkomentar di kepalanya, dia lebih senang membawa pikiran-pikiran itu sampai dia terlelap tidur. Kali ini diisinya tempat isian nama dan alamat virtualnya, setengah berharap perempuan itu akan balik berkunjung ke weblognya, lalu ditulislah komentar singkatnya.

“Kalau kamu cowok mungkin saya gak bakalan membuang waktu membaca tulisan kamu tiap hari kali yah? Hehehe.. salam kenal..”

Agak menyesal ketika dibaca ulang komentar yang sudah terlanjur di tulis dan di submit-nya itu, karena berkesan ngegombal. Astaga apa yang akan dipikirnya perempuan itu tentang aku nantinya?? Kenapa tidak menulis sesuatu yang lebih berbobot. Ah.. !

Tetapi keesokan harinya dilihatnya satu baris “Hai.. nice blog! Salam kenal juga..” di tagboardnya. Sebuah sapaan dari perempuan itu. Hari itu mereka mulai saling tahu. Berkenalan secara virtual, melalui jaringan kabel-kabel, pixel gambar dan tulisan di layar monitor. Saling meninggalkan komentar di weblog dan mengirim e-mail sesekali, berdiskusi atau sekedar menyapa.

Lalu mereka bertemu. Entah siapa yang memunculkan ide itu pertama kali. Tetapi lalu mereka sama-sama berpikir kenapa tidak? Kenapa tidak bertemu saja? Dan tempat yang mereka pilih untuk bertemu hampir setengah tahun lalu itu adalah café kecil tempat lelaki itu sedang menghabiskan malamnya sekarang ini. Tempat dia sedang memegang telefon genggamnya, menenangkan detak jantungnya untuk menerima sebuah panggilan telefon dari perempuan itu.

“Halo.. “ bahkan dia bisa mendengar suaranya sendiri bergetar.

“Mas.. “ diujung sana perempuan itu menyapanya. Terdengar sendu.

 
1 2 3
Untuk menjadi perhatian,
semua tulisan di sini adalah karya dan hak cipta penulis masing-masing. Dilarang menerbitkan kembali tulisan cerpen (dalam bentuk apapun), tanpa sepengetahuan dan seizin penulis yang bersangkutan.
Copyright ©2007 Designed by cinila.com  - contact