Yuli Oitbele, aktif di beberapa blog community, rajin menulis di blog, namun rupanya sekarang memilih lebih pasif.
Namaku Hotma, umurku 17 tahun bulan depan dan aku sudah kelas tiga jurusan Biologi di SMA Negeri 1 Sibolga. Mulai sekarang kau akan menemaniku dan kau kuberi nama Lila! Sesuai dengan warna kesukaanku.
“Hotmaaaa!!” Ups, suara itu lagi.
“Ya Maaaaaaaakkkkkkk,” sahutku dengan suara lantang yang menggema ke seluruh dinding-dinding rumah. Sebentar ya?
“Hotma, tolongkan Mamak menghitung laku jualan kita hari ini. Kau tahu kan mata Mamak makin gak bisa diajak kompromi?” kata wajah terkasihku itu, radius tiga meter dari langkah-langkah tegapku.
“Aduh Maak, Hotma lagi belajar nih. Nanti saja lah ya?” bohongku mencari-cari alasan.
“Sebentarnya ini, gak akan sampai sepuluh menit dengan otak pintarmu itu Anakku,” kata mamak lagi mengeluarkan jurus membujuknya yang ampuh. Mamak memang paling tahu kelemahanku.
“Mak, ikan teri ini berapa kilo yang laku? Mamak gak jelas pun nulis angkanya.”
“Teri kasar tiga kilo, teri nasi lima kilo setengah,” jawab mamak santai sambil mengaduk-aduk terigu, telur, kentang, kol dan wortel dalam baskom plastik. Wah, mamak pasti mau bikin bakwan! Teriakku girang dalam hati.
“Kalau ikan salai Mak?” lagi-lagi aku menemukan tulisan yang kabur di kertas itu.
“Salai dua kilo,” jawabnya lagi.
“Oh ini angka dua nya. Kok kek angka tujuh Mak? hehe..” Cengengesan tidak menentu padahal dalam hatiku sedang takjub dengan kemampuan mamak mengingat semua angka-angka itu tanpa terlupa sedikitpun. Yah, mungkin dari situlah sejarah genetik otak pintarku. Tak cuma dari almarhum bapak yang konon dulu sering juara dan lompat kelas waktu di sekolah rakyat.
“Hotma, jadi kek mana rencanamu setamat SMA ini?” tiba-tiba suara mamak menyelingi bunyi sendok kayu yang dari tadi beradu dengan baskom plastik.
Glek! Kutelan ludahku seketika. Entah kenapa, rasanya aku belum siap untuk membicarakan hal ini sekarang.
“Belum tahu Mak, tengok nanti saja lah kemana nasib membawa hidupku ini,” jawabku sedikit berpuitis.
“Kok gitu? Gak jadinya kau mendaftar Simentaru?”
“Sipenmaru Mak, kepanjangannya Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru,”
“Ah iya itu lah, gak jadi nya?”
“Nanti lah Mak, kupikir-pikir dulu. Ujian akhirnya aja pun belum,” elakku lagi, kali ini dengan alasan yang sepertinya bisa diterima mamak.
“Yah, Mamak sih cuma ingin kau jadi manusia berguna dan sukses dalam hidupmu. Biarpun almarhum bapak dan mamakmu ini cuma penjual ikan asin, kau harus bisa lebih maju dari itu. Ingat adik-adikmu yang empat orang itu Hot, selama ini kan kaunya yang jadi teladan untuk mereka,”
Aku terdiam, lidahku mengelu dan enggan untuk memproduksi kata-kata. Anggukan pelanku pun mengiyakan semua nasehatnya barusan. Ah mamak.. andai aku bisa..
Lila,
Aku tahu hargamu cuma lima ratus rupiah. Kau tak lebih mewah dari agenda-agenda lain yang dijual di toko buku pak Sihol. Tak ada hiasan bunga mawar di kedua sisi lembar-lembarmu. Tapi.. maknamu lebih dari itu. Kau adalah sahabatku. Kau adalah kejujuran itu. Jaga rahasia ya?
Tadi pagi, waktu jam istirahat aku dipanggil bapak kepala sekolah. Cukup kaget aku waktu dia menawarkan sebuah formulir gratis yang akan mengantarkan aku masuk ke perguruan tinggi negeri tanpa harus ikut Sipenmaru. Katanya, USU menawarkan jatah lima orang dari SMA kami untuk dikirim dan diterima sebagai mahasiswa penjaringan. PMDK gitu lah istilahnya. Satu orang untuk Fakultas Kedokteran, dua orang untuk Fakultas MIPA, dua orang Fakultas Teknik dan satu orang lagi untuk Fakultas Sastra.
“Karena kau dari Biologi, sebaiknya kau ambil Fakultas Kedokteran atau MIPA, Hot.” usul pak kepsek yang seakan dapat membaca kebingungan di wajahku.
“Tapi Pak..” aku tergugu, bingung.. aku bingung. Banyak hal yang berkecamuk di kepalaku detik itu.
“Kenapa? Jangan bilang kau gak percaya diri ya Hot. Selama dua tahun berturut-turut memegang juara umum di jurusan Biologi itu sudah cukup membuktikan kemampuanmu,” imbuh pak kepsek lagi.
“Saya pikir-pikir dulu ya Pak? Tanya mamak dulu..” jawabku akhirnya.
“Baiklah, bawa saja dulu formulir ini dan kembalikan besok pagi. Bapak harap kau mengambil keputusan yang terbaik untuk masa depanmu.”
Kutinggalkan ruangan itu dengan kepala penuh. Semakin penuh ketika Wulan, teman sebangkuku yang orang Jawa itu datang dari kantin dan berkata, “Dapat tawaran PMDK Hot? Ambil saja yah? Sayang kan kalau ndak dimanfaatin.”
Sayang katanya.. Sayang.. Sayang.. kenapa?