April Project - Sebuah Antologi Cerpen Blogger Indonesia - 2005

 

 

Penjual Ikan Asin dan Ceritanya

(halaman 3 dari 3)

 

Tok tok tok, kuketuk pintu ruangan bapak kepala sekolah dengan sebuah keputusan bulat.

“Masuk,” terdengar suara berwibawa dari dalam.

“Pak..” Ups! Ada Togar juga di dalam, di tangannya mengapit formulir yang sama dengan yang aku pegang.

“Balikin formulir juga ya Hot?” sapanya dengan suara berat dan dalam.

Aku mengangguk sambil berharap dia akan cepat-cepat menyerahkan formulirnya dan keluar dari ruangan itu. Semoga hanya ada aku, pak kepsek dan dua malaikat pencatat yang mendengarkan pembicaraan kami nanti.

“Jadi kamu pilih yang mana Gar? Bagusnya satu calon satu pilihan, biar semuanya lulus dari sekolah kita.” suara pak kepsek memecah kebekuan suasana.

“Saya mendaftar ke Fakultas Kedokteran, Pak. Saya dengar Hotma memilih MIPA, jadi mungkin cukup tepat strategi kita,” jawabnya lugas sambil tersenyum kepadaku. Oh senyumnya.. Benar kata Wulan, Togar ini lebih ganteng kalau sedang senyum!

“Dengar dari..?” tanyaku dengan ekspresi kaget yang tidak dibuat-buat.

“Wulan, juga beberapa teman sekelasmu Hot,”

“Oo..” tak mampu berkata-kata, bibirku membulat dan mengeluarkan vokal O itu.

“Benar Hot? Kamu memilih Fakultas MIPA?” tanya pak kepsek pada hitungan detik berikutnya.

Engg.. bagaimana ini, bagaimana ini.. Gugup sekali aku waktu itu, bukan karena aku tak yakin dengan keputusanku tapi.. Togar. Aku tak ingin dia tahu.

Lila, detik berikutnya kuserahkan, kupasrahkan pada Allah untuk membimbing lidahku. Dan energi yang aku dapatkan subuh tadi memang sangat dahsyat untuk membuatku lebih percaya diri, lebih mantap dan pasti dalam mengemukakan pendapatku pada pak kepsek. Anehnya, tak ada argumentasi di sana. Meskipun keputusanku tidak seperti harapannya.

“Terus terang aku kaget,” suara itu.. Togar? Kenapa tiba-tiba dia ada di dermaga ini juga? Aku terhenyak Lil, mendapati sosok tegap itu sedang berdiri dua meter di sebelah kananku.

“Eh Togar,” sahutku berpura-pura tidak kaget. Ah, tentu saja kepura-puraanku bisa terbaca olehnya. Aku tidak begitu ahli menyembunyikan ekspresiku.

“Banyak sekali perempuan yang ingin seperti kau Hot. Wulan, Yusna, Asni, Intan, Marhat, Ajeng, Nita, Arina, banyak. Diberi kemampuan dan kesempatan untuk meniti mimpi yang diidam-idamkan kaum perempuan sekarang, namun kau lebih memilih untuk menolaknya.”

Huufff.. suaranya itu.. berat, berwibawa dan kebapakan. Aku seperti sedang berhadapan dengan tulang Atob, pamanku yang sering menjadi lawan diskusiku kalau dia sedang main ke Sibolga.

“Kau berbeda, entah kenapa aku melihat sesuatu yang lain dari dirimu. Terutama setelah penolakanmu tadi pagi di kantor pak kepsek. Kau benar-benar yakin Hot dengan keputusanmu?”

Kutarik nafas dalam yang mengisi separuh relung di paru-paruku. Sejenak kubuang jauh-jauh tatapanku ke tengah laut di dermaga itu. Lil, andai dia tahu saat itu aku sedang grogi..

“Yah.. mungkin untuk sebagian orang keputusanku ini dianggap tidak pantas, tidak tepat, tidak cermat dalam memanfaatkan peluang atau malah.. terlalu idealis. Gar, aku ini anak sulung. Satu-satunya perempuan dan adikku ada empat orang. Bapak sudah tidak ada, mamak sendiri sering sakit dan kerepotan mengurus toko ikan asin kami sendirian. Mamak dan adik-adikku membutuhkan aku lebih dari aku membutuhkan kuliah di Fakultas MIPA itu, Gar.”

“Tapi kurasa mamakmu bisa mengerti. Bukankah mamakmu juga berharap kalau kau bisa kuliah dan memiliki masa depan yang cerah?”

“Tahu darimana?” tanyaku kaget. Terang aku kaget, karena satu-satunya manusia yang pernah aku ceritakan masalah ini adalah..

“Wulan,” jawabnya singkat.

Wulan lagi! Temanku yang satu itu memang perlu dibelikan salasiban untuk menambal kebocoran di mulutnya.

“Gar, menolong mamak di toko ikan asin, bersungguh-sungguh dalam menekuni usaha itu juga akan mengantarkanku pada masa depan yang cerah Gar. Menjual ikan asin tidaklah hina, menjadi pedagang ikan asinpun bisa menjadi orang besar.” Kali ini kutantang wajah ganteng itu, matanya meredup ketika bertemu dengan mataku. Ups! Tiba-tiba jantungku berdegub keras. Ada apa ini? Lil, sungguh aku tak kuasa menahan debaran-debaran itu.

“Benar, dan aku setuju pendapatmu itu. Kamu memang berbeda..” katanya pelan sambil berjalan mendekat.

Oh Tuhan, tolong aku! Kenapa kakiku tiba-tiba enggan diangkat begini?

Senja turun perlahan-lahan. Semburat merah keunguan mulai terpapar di atas langit dermaga, saat angin laut berdesir lembut seiring dengan suara berat laki-laki itu berkata padaku, “Hot, aku sudah membulatkan tekad untuk menjadi seorang dokter. Bukan karena aku laki-laki dan menjadi dokter laki-laki itu keren, bangga, gagah atau iming-iming lain yang tak aku butuhkan sama sekali. Tapi karena aku ingin, aku ingin sekali menolong orang dengan ilmu yang aku miliki. Terutama orang-orang di sekitar kita sekarang. Berapa orang dokter di Sibolga?”

Satu, itupun sering bolak-balik ke Medan. Jawabku dalam hati, masih menunggu dia untuk meneruskan ucapaannya.

“Satu, itupun sering tidak di tempat kan?” Persis seperti jawabanku barusan. Aku mengangguk.

“Karenanya, aku akan berangkat ke Medan, aku pasti berangkat ke Medan. Kalau aku tidak lulus dengan jalur penjaringan ini, aku akan terus mencoba dengan Sipenmaru Hot,”

“Baguslah, setiap orang harus punya impian,” kataku sambil mencuri lihat ke manik matanya.

“Yah, dan impianku yang lain adalah untuk hidup bersama dengan wanita sepertimu.” imbuhnya.

 ke atas

“Hah?” Ups! Ekspresi kagetku itu lagi. Pasti saat ini urat-urat di wajahku sedang menyembul ke luar menuju kulit.

“Aku tahu kita masih muda dan belum matang dalam kehidupan ini. Aku juga tahu kalau waktu empat tahun itu tidaklah sebentar Hot. Aku mungkin akan jarang pulang. Bukan karena mahalnya ongkos bis Medan-Sibolga. Kau tau kan uang tidak menjadi masalah besar di keluargaku?” Togar diam beberapa detik, lalu “Konsentrasi, itu yang aku inginkan. Semangat serta motivasi kuat, itu yang aku butuhkan. Dan aku ingin kau menjadi orang kedua yang memotivasi aku Hot. Kita bisa berkirim surat setiap bulan, setiap minggu kalau perlu. Yang penting aku ingin wanita seperti kau,” lanjutnya sambil berjalan mendekat, memperpendek jarak antara kami menjadi satu meter.

“Eh.. maksudnya?” gelagapan, terang saja aku gelagapan.. terlebih dengan perasaan grogi yang saat ini telah menggerogoti separuh tubuhku!

“Kamu mau jadi kekasihku kan Hot? Meskipun aku tak ganteng kalau tidak senyum. Aku akan berusaha lebih banyak menebar senyum, bagaimana?” ucapnya dengan menarik sebuah garis di kedua sudut bibirnya. Memang, laki-laki ini lebih ganteng kalau sedang senyum!

“Siapa yang bilang? Wulan ya?”

“Hehehe.. iya. Mau kan Hot?” tanyanya lagi, kali ini dengan menatap langsung kedua mataku, ahh.. aku tak kuasa dibuatnya..

“Aku.. aku hanya seorang anak penjual ikan asin, dan kelak akupun akan menjadi seorang penjual ikan asin. Masa dokter dengan tukang ikan asin?” sedikit terbata awalnya namun kuberhasil juga menyelesaikan kalimatku. Huufff…

“Ah, jangan mengujiku dengan retorika seperti itu, Hot. Ikan asin itu enak! Hehe.. kalau kau jadi kekasihku, aku yang akan jadi pelanggan tetap pertamamu Hot. Aku pasti akan lebih bersemangat makan ikan asin kirimanmu nanti di Medan,” lagi-lagi dia menarik garis di sudut bibirnya itu, menggantung sebuah senyuman.

“Hus ngawur! Mana ada proteinnya kalau makan ikan asin setiap hari?” kataku menahan geli.

“Jadi?” tanyanya lagi, oh.. harus bagaimana aku menjawabnya?

Mengangguk! Yah.. aku mengangguk mengiyakan dan membiarkan dia meraih tanganku. Genggamannya erat sekali. Genggaman tangan laki-laki pertama yang berhasil merebut hatiku. Dia, Togar.

Sore itu, kami berjalan pulang ke rumah. Cukup jauh sebenarnya, tapi apalah arti jarak satu kilometer dibanding dengan kehangatan kasih kami berdua serta mimpi-mimpi yang mulai kami bangun di sepanjang jalan itu.

“Juliiiiiii!!” Ups! suara mamak lagi! Ini untuk yang ketiga kali dia memanggil aku. Kulirik sebentar jam dinding yang sudah menggeser jarumnya ke angka empat. Sudah sore rupanya. Kuselipkan agenda usang bertulisakan ‘Lila’ itu di bawah bantal, lalu berlari secepatnya ke luar kamar.

“Ya Maaaakk i’m comiiiingggg!!” teriakku lantang dengan langkah gegap gempita menuju ruang makan.

“Jul, tolong kau bikinkan neraca akuntansi untuk pengiriman ikan asin kita yang ke Belanda ya? Ini double folionya. Gak usah buru-buru, yang penting besok siang sudah siap ya Nak,” kata wajah terkasihku itu sambil menyodorkan beberapa lembar kertas.

“Jul, perawat Bapak nanti sore gak bisa masuk. Masih demam dia, bisanya kau tolongkan Bapak di klinik Jul?” tiba-tiba suara bapak di belakangku. Oh.. Tuhan, kedua orang terkasihku ini..

“Hehe.. Pak, dapat gaji gak Pak?”

“Dapatlah. Setiap usaha itu harus ada nilainya, respectation or money. How much do you want?” tanyanya dalam dwi bahasa. Bapak memang suka sekali melatih kemampuan bahasa Inggrisku. Makanya jangan heran di rapot aku selalu dapat nilai sembilan.

Well yeah.. how about twenty five thousand for an hour Sir?” balasku sambil berjalan mendekati sang negosiator.

“So expensive, make it ten thounsand for an hour.. but I promise to buy you Bobbi de Porter’s book, how about it?”

“Quantum learning Sir?” kataku hampir tak percaya. Tentu saja aku mau buku itu, harganya saja hampir lima puluh ribu. Sepertiga uang jajan bulananku!

“Absolutely,” jawabnya singkat.

“Hey hey come on! There’s someone else here listening,” tiba-tiba suara mamak menimpali obrolan kami.

“Hahaha.. lihat tuh mamakmu Jul, sudah tua-tua begini masih saja cemburuan. Sama anakpun dia cemburu!” kata bapak dengan nada mengejek sambil mengerlingkan mata kirinya.

“Heh, bukanlah ini cemburu namanya,” balas mamak tak mau kalah.

“Hot.. Hot.. mananya teh untukku? Koran sore ini, sudah jadi si Ujang beli ke Simpang?” Bapak berjalan mendekat, menarik kursi kemudian duduk tepat berada di depan mamakku.

“Ini nya Bang. Aku buatkan bakwan juga nih untuk kalian. Bakwan teri!”

“Aahh.. sedapnya teh dan bakwan teri..” bapak menyeruput tehnya dan mulai memaku matanya ke koran ‘Sibolga Baru’ itu. Sebentar kemudian, sesekali mereka tampak membicarakan beberapa topik hangat yang menjadi headline berita Sibolga sore ini. Ah mamak.. bapak..

Kutinggalkan kedua orang terkasihku itu dengan senyum simpul yang mengandung sejuta makna. Kembali ke kamarku dan mulai menulis.

Sekarang sudah tahun 2008, emansipasi masih terus dielu-elukan dan merebak kemana-mana seperti virus digjana menginfeksi perempuan-perempuan yang haus kesetaraan. Namaku Juli, umurku 17 tahun sekarang. Dua bulan lagi aku akan mengikuti SPMB di kota Medan, dan aku tahu pasti jurusan apa yang akan aku ambil. Tanpa iming-iming apapun, tanpa paksaan siapapun. Aku adalah aku dan keinginanku. Dan mulai sekarang kau adalah sahabat yang akan menemani hari-hariku. Kuberi nama kau.. Magenta!

 
1 2 3
Untuk menjadi perhatian,
semua tulisan di sini adalah karya dan hak cipta penulis masing-masing. Dilarang menerbitkan kembali tulisan cerpen (dalam bentuk apapun), tanpa sepengetahuan dan seizin penulis yang bersangkutan.
Copyright ©2007 Designed by cinila.com  - contact