Raditya Dika, seorang blogger yang selalu menulis dengan nada kocak dan fun di blog nya, ternyata piawai juga menulis cerpen yang cukup serius.
Setelah menerbitkan blog-nya dalam bentuk buku, kini Dika sedang sibuk mem-film kan blognya. Way to go Dik!
Seandainya Kartini hidup hari ini, apakah dia akan melakukan hal yang aku lakukan sekarang ini? Apakah dia akan mengetik pelan-pelan di depan laptopnya dengan segelas kopi disebelah kanan dan partriakisme di otak kiri, menunggu untuk dikeluarkan untuk digantikan dengan apa yang disebut-sebut sebagai emansipasi wanita? Entah. Aku tidak tahu.
Aku adalah seorang wanita. Paling tidak itu yang aku tahu secara genetik. Namun sudah hampir selama setahun ini, orang-orang di dunia blog mengenalku sebagai Syamsur, laki-laki yang menulis sebuah online journal. Ya, aku menipu pembacaku dengan menulis sebagai seorang lelaki. Syamsur adalah bentuk perwujudanku sebagai lambang kesetaraan, bahwa aku bisa berpikir dan menulis seperti seorang pria. Hei, otak kan hanya merupakan kumpulan reaksi-reaksi neurotik, dan badan tidak ada hubungannya dengan pikiran kita. Setidaknya itu yang mereka bilang. Setidaknya itu yang aku tahu.
Di dunia blog aku dipuja-puja karena aku menulis berbagai macam hal yang berkaitan dengan feminisme sebagai Syamsur. Aku mengandaikan diriku sebagai laki-laki lalu aku menulis berbagai macam hal yang mengangkat perempuan dan merendahkan derajat laki-laki, dan mereka, pembaca setiaku, yang kebanyakan perempuan, mengelu-elukanku sebagai pria yang membela feminisme dan penggayang patriarkisme. Aku senang.
Aku bercerita tentang banyak hal. Tentang wanita terutama. Sebagai Syamsur aku bercerita tentang hal yang aku inginkan lelaki untuk berbicara. Aku bercerita tentang hal yang dihindari oleh pria untuk bercerita, aku merendahkan sedikit posisi mereka, yang tentu membuatnya sejajar dengan para wanita. Seketika gambar Yahoo Messenger-ku berkedip, ada new message, dari Vira, salah satu pembaca setia blog-ku.
Vira: Hai Syamsur. Apa kamu sedang menanti pagi?
Aku: Pagi bukan untuk dinanti, tapi untuk dinikmati.
Vira: Syamsur, apa kamu sudah mempunyai istri?
Aku: Kenapa kamu bertanya?
Vira: Engga, aku ingin tahu saja. Sebab aku ingin menjadi istrimu.
Aku: Jika diantara wanita dan pria banyak sekali perbedaan, mengapa tidak wanita saja yang menjadikan wanita lain sebagai istrinya? Dan pria menjadikan pria lain sebagai suaminya, dengan demikian masing-masing akan saling mengerti, dan pertengkaran pun bisa diabaikan.
Vira: Aku tahu kamu pria pendukung perempuan. Tapi aku tidak tahu kamu gila.
Aku lebih dari sekedar gila. Semakin hari, aku merasa bahwa Syamsur berbicara pada diriku sendiri. Ini adalah idealisme perempuan yang terwujud dalam identitas seorang lelaki. Kita butuh kesetaraan gender. Lelaki telah lama menikmati masa yang panjang sebagai simbol kebesaran dan keagungan. Kami, para perempuan hanya diam di rumah, menunggu hak-hak kami untuk dibangkitkan. Dan kami lelah untuk menunggu.
Seandainya Kartini masih hidup, mungkinkah dia akan mengirim email kepada Syamsur, dan memintanya untuk menikahinya? Aku tidak tahu. Aku ingin tahu sebenarnya apa yang Kartini pikirkan saat menulis Habis Gelap Terbitlah Terang? Apakah itu sebuah metafora? Apakah kalimat itu seharusnya diakhiri dengan tanda tanya, dan menjadi kalimat retorik, karena pada saat ini aku masih merasa wanita masih berada dalam kegelapan, gerhana dalam bayang-bayang yang belum pernah surut. Karena perjuangan kita bukanlah semata-mata hanya untuk keuntungan sendiri. Karena kita adalah wanita, dan kami mempunyai surga di telapak kaki kami.
Terkadang Tuhan datang berbicara padaku di dalam mimpi dan memintaku untuk berhenti menjadi Syamsur. Agar aku menutup blog-ku, dan membuat Syamsur tertidur selamanya. Aku menolak Tuhan, lagipula, aku mempunyai surga di telapak kakiku, jika aku mau, aku bisa memutilasinya. Dan aku bisa mendapat puluhan email dari para wanita yang terpikat kepada Syamsur dan mengajaknya untuk menikah. Mungkin itu yang kurang dari lelaki jaman sekarang: Feminisme.
Feminisme itu seperti sebuah titik mula dalam soal fisika yang berhubungan dengan kecepatan. Feminisme itu adalah permulaan, seperti api yang bermula dari korek, manusia dari janin, dan benci dari rasa penolakan.
Aku menengguk kembali teh manis di dalam cangkir putih di sebelah laptopku sambil membalas puluhan email yang masuk. Sebagian besar dari mereka memuja-muja Syamsur sebagai lelaki masa kini sedang sebagian lagi menawarkan interview untuk sebuah majalah komputer. Aku harus membuat alasan-alasan konyol kepada mereka yang menanyakan padaku apakah aku ingin menjadi suami mereka. Aku membuat alasan mulai dari aku tidak tertarik sampai aku tidak punya waktu karena aku terlalu sibuk membela kaum perempuan. Seorang perempuan mengirimkan email kepadaku:
“Syamsur, bagaimanakah caranya agar kami tahu bahwa surga benar-benar ada di bawah telapak kaki kami?”
Aku menjawab,
“Kemarin aku mencoba untuk melihatnya pada kaki ibuku, tetapi terkadang aku segan utnuk meminta dia untuk memperlihatkan kepadanya. Aku bertanya kepada pembantuku yang bekerja pada rumah ibuku, dan dia berkata bahwa dia melihatnya di kaki ibu. Tapi aku sangsi, kamu tahu, terkadang anak kecil suka mengatakan hal yang tidak benar untuk sebuah permen. Lalu aku memberanikan diri untuk melihat telapak kaki ibuku dengan cara menekuknya sambil duduk. Lalu aku tidak melihat apa pun. Namun, terkadang hal yang kita lihat dengan mata telanjang belum tentu adalah hal yang sebenarnya. Terkadang hal yang kita ingin lihat dengan mata telanjang adalah hal yang harus kita lihat dengan hati kita sendiri. Dengan keyakinan kita sendiri. Maka dari hati, bisa tercipta suatu keyakinan. Dari keyakinan maka ada kenyataan. Lihat, sekarang surga itu terlihat di telapak kaki ibuku. Ini kenyataan.”
Aku ingin memperjuangkan wanita dari hati, seperti Syamsur. Tapi aku bukan Syamsur, aku Ayu. Mereka memanggilku Ayu dan aku adalah wanita. Aku bukan Syamsur yang dielu-elukan di alam maya. Aku hanyalah seorang pencerita yang mencoba untuk terus membela wanita dalam bentuk yang tidak nyata. Maya. Aku bercerita di alam maya. Di antara jeratan jaring dan lekukan yang aku sendiri tidak tahu kemana aku akan dibawanya. Aku mengerti itu.
Beberapa menit kemudian, telepon genggamku berbunyi. Aku mengangkatnya. Suara di seberang sana terdengar lembut, khas seorang wanita,
”Apakah kamu Syamsur?”
Aku bingung ingin berkata apa, namun sejenak hati kecilku menjerit untuk mengatakan hal yang sejujurnya. Tapi aku bimbang, yang manakah yang jujur? Lalu aku berkata dengan pelan pada orang di seberang sana,
“Iya, ini aku, Syamsur.”
“Syamsur? Kok suaranya terdengar seperti seorang wanita?”
“Iya, saya adalah seorang wanita. Nama saya Ayu, dan Saya Syamsur.”, aku berkata dengan pelan, mencoba untuk menjelaskan apa yang terjadi.
“Nama kamu Ayu dan kamu Syamsur? Aku tidak yakin aku bisa mengerti.”
“Aku juga.”