Seandainya Kartini masih hidup, apakah dia juga tidak bisa mengerti? Hening sebentar dari seberang sana, lalu dia menutup teleponnya. Kecewa, mungkin. Namun ini adalah kenyataannya. Dia tidak mengerti, aku juga. Kita punya kesamaan. Sebenarnya gampang saja, namaku memang Ayu. Tetapi aku Syamsur. Jika aku tidak berwujud sebagai seorang pria namun isi kepalaku adalah Syamsur, apakah wanita-wanita itu masih ingin menikahiku?
Coba dipikir, mereka ingin menikahi Syamsur. Aku adalah Syamsur, namun wujudku perempuan, dan namaku Ayu. Aku tidak mengerti penjelasan apa lagi yang bisa lebih jelas dibandingkan itu. Aneh. Apakah pikiran dan tubuh itu satu kesatuan, jika mereka terpisah, bisakah aku ada di dalam tubuh pria, dan berpura-pura sebagai Syamsur. Aku ingin mereka tahu bahwa pujaannya ada dalam wujud fisik.
Aku mengagungkan wanita. Dan aku sudah melakukannya semenjak aku hidup. Namun diantara birokrasi yang ada didalam hidup ini, dan segala tetek bengek patriakisme yang menjalar seperti benalu pada pohon mangga depan rumahku, kami masih belum bisa mencoba untuk mencintai pria. Apakah para pria harus menjadi seorang wanita, maka baru wanita tersebut bisa mencintainya seperti para wanita itu mencintai Syamsur? Apakah Kartini mencintai suaminya? Seandainya Kartini masih hidup.
Kartini mungkin adalah lambang perjuangan. Darinyalah aku bisa mendapakan kebebasan untuk melakukan segalanya. Itu yang kita perlukan, simbol. Simbol adalah hal yang mengikat kita semua dalam kesenangan, seperti simbol mercedez benz bagi mereka orang kaya, simbol lingkaran biru untuk KB, kita perlu simbol perjuangan perempuan di negara ini, dan Kartini yang menjadi kandidat satu-satunya pada masa itu pun lulus. Seorang ksatria wanita dengan pena dan kertas sebagai senjata. Maka disinilah kita merayakan hari Kartini. Syamsur bisa menjadi simbol, Syamsur bisa menjadi simbol seorang pria yang membela feminisme dan mengagungkannya, siapa tahu besok hari ada hari Syamsur? Tidak ada yang tahu.
Kita mengagunkan emansipasi, namun apakah emansipasi mengagungkan kita? Sementara banyak vagina yang berserakan dikemas dalam VCD porno di bangsal glodok atau sekitar mangga dua. Kita masih duduk dengan santai di depan TV dan bercerita tentang emansipasi wanita. Selama masyarakat kita lebih memilih pembantu perempuan ketimbang laki-laki.
Selama para perempuan di panti pijat plus plus itu mengangguk pasrah ketika disuruh bercinta dari belakang. Selama gelap masih ada dan matahari belum terbit, rasanya perjuangan kita belum selesai selama ini.
Aku merasa kesetaraan adalah hal yang masih jauh untuk diwujudkan. Selama kita masih terbatasi dengan kemampuan kita sendiri dan menjerit lalu membenamkan harga diri kita kepada birokrasi tanpa batas dimana pria memakai kita hanya sebagai simbol yang tak pernah terlihat jelas. Dimana kita masih perlu untuk memahami arti harga diri. Syamsur melihatnya dan wanita memujanya. Sungguh gampang sekali untuk merebut hati wanita, bersikaplah seperti mereka. Namun tidak sebaliknya.
Beberapa saat kemudian aku tertidur. Lalu aku bermimpi, setidaknya aku mengira aku bermimpi, bahwa Kartini menghampiriku. Dia berjalan memakai baju kebaya dan rambut disanggul. Aku diam. Mereka bilang mimpi adalah perwujudan dari keinginan yang tidak tersampaikan. Aku rasa begitu. Kartini berbisik kepadaku,
“Apa kamu sudah mengerti, Syamsur?”
“Mengerti apa?”, kataku dengan bingung.
“Bahwa kamu adalah wanita.”
“Iya, saya mengerti bahwa saya adalah seorang wanita. Tapi saya juga mengerti kalau saya bukan Syamsur. Saya hanya seorang wanita yang berpura-pura sebagai Syamsur.”
Kartini terkejut. Wajahnya berubah dan dia menggeleng-geleng dengan ketidakpercayaan. Aku menggeleng-geleng karena tidak tahu harus berbuat apa. Lalu Kartini tersenyum kepadaku dan menganggukkan kepalanya dengan lemas. Aku tidak tahu apa yang terjadi barusan. Namun aku merasa bahwa itu adalah hal yang tidak baik. Setidaknya itu yang aku pikir.
Seandainya Kartini masih hidup hari ini, apakah dia akan berteriak senang melihat segala macam emansipasi wanita yang berlaku pada negeri ini, ataukah dia akan menangis tersedu melihat feminisme dan harga diri wanita yang semakin lama semakin turun, seiring dengan majunya jaman dan pentingnya industri pornografi untuk kelangsungan hidup para lelaki. Atau apakah dia akan menangis mengetahui Syamsur, adalah sesungguhnya seorang wanita.