April Project - Sebuah Antologi Cerpen Blogger Indonesia - 2005

 

 

Perempuan Dalam
Layar Kaca

(halaman 1 dari 2)

 

Sireum Hideung, si semut hitam perempuan Bandung yang puitis. Silahkan ditengok kepiawaian menulis lewat blog-nya yang berwarna hitam.

Malam larut. Rembulan menggantung, cahayanya samar menembus rimbun pepohonan. Jalan mengkilat dan basah sehabis hujan sore tadi. Baskoro berjalan sendirian, di atas jalan yang basah, di bawah cahaya rembulan. Baginya tak ada yang berarti dari hidup ini selain tidur dan secangkir kopi. Sebab hari-hari yang dilewati telah habis dengan memburu sesuatu yang tak pasti. Detik-detiknya habis untuk mengejar berita. Peristiwa demi peristiwa lewat menjadi catatan hariannya. Hanya sebuah catatan. Catatan yang ditulis sekadar merampungkan rasa penasaran kaum-kaum yang kurang kerjaan, yang tak punya kegiatan di pagi hari, yang membutuhkan teman bagi sebatang rokok dan secangkir kopi, atau yang membutuhkan bahan pembicaraan untuk sekadar omong-kosong dan basa-basi.

Baskoro tenggelam dalam lamunannya sepanjang perjalanan. Hidup, hanya menunggu. Penantian atas kematian itu. Dia menyadari, kelelahannya telah mencapai klimaks. Baskoro rindu kebebasan. Dia ingin kembali ke masa lalu. Saat dia menjadi orang merdeka. Tak dikejar-kejar deadline atau mengejar-ngejar nara sumber. Semuanya mengalir. Liar. Tanpa harus bertanggung jawab pada apapun, pada siapa pun. Tuhan? Dengan Tuhan sekalipun, Baskoro telah berdamai. Dia tak akan mengusik apapun tentang Tuhan. Juga tentang matanya yang terlihat sipit sedang kulitnya terlalu legam, tentang jarinya yang lebih satu, hingga dia punya sebelas jari. Dia berjanji tak akan mempertanyakan semua itu. Dan Tuhan, dilarangnya protes tentang apa yang akan dilakukannya. Baskoro berdamai dengan dirinya, dengan Tuhan.

Baskoro mengutuk jalan hidup yang telah diambilnya seandainya dia tak bertemu dengan perempuan itu. Perempuan yang berhasil menggetarkan seluruh kesadaran sekaligus bawah sadarnya. Perempuan yang baginya adalah bidadari. Dia memang tak pernah peduli, perempuan itu adalah perempuan liar atau bahkan perempuan binal. Dia hanya tahu, bahwa dia mencintai perempuan itu.

Perempuan itu datang tepat ketika dirinya hampir-hampir menjadi gila. Perempuan itu hadir tiba-tiba dalam hidupnya. Baskoro tak ingat bagaimana perempuan itu telah menjadi bagian dari dirinya. Bagian yang paling dalam dan tak mungkin terpisahkan. Kecantikan terpancar dari seluruh gerak tubuh perempuan itu, dari kata-kata yang keluar lewat bibir merahnya, dari lambaian rambutnya sekalipun. Bukan hanya parasnya, seluruh pribadinya adalah lambang kecantikan.

 ke atas

Dan saat ini, Baskoro mulai berpikir untuk menikahinya. Membangun rumah bagi keluarga kecil mereka. Menjadikan dirinya benar-benar laki-laki. Baskoro ingin menjadi suami bagi perempuan itu, dan ayah bagi anak-anaknya kelak. Teringat semua itu, langkah Baskoro semakin cepat. Dia ingin segera tiba dalam kamarnya.

Jalan yang dilewatinya mulai menyempit. Beberapa gang telah dilewatinya. Tinggal satu tikungan lagi untuk sampai ke pintu kamarnya. Baskoro berjalan seakan-akan berlari. Langkahnya semakin mendekat. Baskoro membayangkan perempuan itu tengah menunggunya sambil membaca. Siang kemarin dia memberi hadiah buku baru khusus untuk perempuan itu. Perlahan Baskoro membuka pintu kamarnya, tapi dia terkejut karena tak menemukan sosok itu. Lampu 5 watt yang menerangi kamarnya memang samar, tapi sosoknya akan terlihat jelas jika dia memang ada. Dan perempuan itu memang tak disana. Baskoro membuka pintu kamar mandi, tapi tetap tak ada juga. Jiwanya bergetar hebat. Seperti ada yang terampas dari tubuhnya. Sakit. Sangat sakit. Baskoro tahu, ketidakhadiran perempuan itu adalah pertanda. Sebuah isyarat, sesuatu akan menimpanya.

Baskoro terhempas di kursi tempat perempuan itu biasa menunggunya. Mata sipitnya menangkap samar buku-buku yang dibelinya siang kemarin. Perlahan tangan kekarnya meraih satu buku. Dingin menjalar ke seluruh tubuh. Dia buka halaman demi halaman dengan khidmat. Dia tak ingin semuanya terlewat begitu saja. Dia ingin perempuan itu menjelma dengan dibukanya buku itu.

 
1 2
Untuk menjadi perhatian,
semua tulisan di sini adalah karya dan hak cipta penulis masing-masing. Dilarang menerbitkan kembali tulisan cerpen (dalam bentuk apapun), tanpa sepengetahuan dan seizin penulis yang bersangkutan.
Copyright ©2007 Designed by cinila.com  - contact