Bas, aku pergi!
Seperti saat aku datang, kuharap kau menerima dengan ikhlas.
Terima kasih telah kau izinkan aku singgah dalam hidupmu yang serupa sungai ini. Aku bahagia! Tak pernah kurasakan kebahagiaan sebelum aku bertemu denganmu. Tapi hidup harus berlanjut. Duniamu dan duniaku adalah dua sisi mata uang. Tak mungkin beriringan. Satu sama lain saling menggantikan. Ketika kau ada, maka aku harus lenyap. Begitu sebaliknya. Tuhan memberi kita jalan yang berlawanan. Jalanmu ke kanan, sedang jalanku ke kiri. Maaf jika aku telah membuat kamarmu jadi sedikit tak nyaman.
Perempuanmu.
Baskoro benar-benar terlempar, melewati kesadaran dan pikirannya. Dia seperti melayang dalam langit malam gelap tanpa bintang. Kepalanya berat. Tubuhnya remuk. Semua benda seperti menampar-nampar wajahnya. Baskoro terkapar.
Dalam kegelapan, dilihatnya jelas bagaimana dia pertama kali bertemu dengan perempuan itu. Seperti video yang diputar ulang. Otaknya memutar kembali pita kenangan. Peristiwa yang tak akan begitu saja hilang dalam pikirannya.
Desember, 2002
Sebuah perhelatan akbar digelar. Seluruh wartawan hadir. Ini pesta besar bagi seluruh insan dunia pertelevisian. Di sini seluruh aktris dan aktor berkumpul. Sebuah ajang untuk menunjukkan popularitas seseorang.
Baskoro tak menyia-nyiakan kesempatan emas. Baginya, berita yang akan terlahir dari pesta besar ini adalah berita yang spektakuler. Kameranya bergerak bagai makhluk hidup, tak pernah berhenti semenit pun untuk menangkap sosok-sosok yang lalu lalang. Hidup seperti dalam mimpi. Artis-artis cantik yang cuma bisa dilihat di layar televisi nampak jelas di depan mata. Tiba-tiba mata Baskoro menangkap sosok yang dikenalnya sebagai pemain sinetron dan bintang beberapa iklan itu tepat di sebuah sudut. Ya, perempuan itu sendirian. Baskoro tak mempedulikan lagi figur publik yang lalu-lalang di sekelilingnya. Dengan yakin dihampirinya perempuan semampai yang tengah menerawang jauh. Dia seperti tak peduli dengan hingar-bingar musik dan teriakan-teriakan beberapa wartawan yang berusaha mewawancarai teman-teman satu profesinya. Baskoro tahu, pandangan perempuan itu kosong.
“Tak baik seorang perempuan melamun sendirian. Apalagi di malam hari,” Baskoro mulai berbasa-basi.
Perempuan itu menoleh sekilas. Lantas kembali memandang jauh.
“Apa pedulimu? Kamu wartawan cuma ganggu ketenangan orang aja! Seperti tak ada urusan lain!” perempuan itu menggerutu.
“Urusan aku ini ya mengurus urusan orang-orang sepertimu,” Baskoro menjawab sambil terkekeh.
“Kamu ngejek ya? Orang-orang macam kalian cuma bisa membesar-besarkan masalah. Kalian hidup dari penderitaan orang-orang sepertiku. Aib kami dibuka dengan dibumbui beberapa hal yang tak pernah terlintas dalam pikiran kami sekalipun. Kalian pembual besar!”
“Kalau tak mau, tak usah jadi public figure. Jangan mengaku-ngaku sebagai public figure jika memang tak ingin dicampuri urusannya. Jadilah pendeta atau pertapa!” Tak seperti biasanya, Baskoro yang dikenal sebagai wartawan yang mampu meluluhkan hati narasumber mana pun, kini seperti membuka topeng dia yang sebenarnya .
Ya, Baskoro memang telah mencapai klimaks dari kelelahannya yang panjang. Dua hari yang lalu dia berniat mengundurkan diri, tapi bosnya malah menyuruh dia meliput pesta akbar ini. Setelah itu, bosnya bilang, “Terserah kau mau melakukan apa saja.” Mungkin inilah puncak ketika Baskoro tak bisa lagi berdamai dengan dirinya.
“Ya, harusnya aku menjadi pertapa! Menjadi biksuni mungkin lebih baik.” Perempuan itu menjawab dengan mimik muka yang serius.
Baskoro benar-benar kaget menerima jawaban perempuan yang dikenalnya di televisi begitu mempesona itu. Dari sanalah perbincangan mereka dimulai. Ketika malam makin larut, mereka pun larut dalam obrolan tentang diri dan hidup. Sampai akhirnya, ketika pesta usai, perempuan itu tidak pulang dengan memakai mobil yang dipakainya saat dia pergi. Tapi dia dibonceng Baskoro dengan motor bututnya yang hampir bobrok. Malam itu, perempuan itu tidur dalam dekapan Baskoro.
Hari-hari berikutnya adalah hari-hari indah bagi mereka berdua. Cinta telah merambah jiwa dan sanubari mereka. Tak ada hari tanpa rindu. Kedua-duanya berburu untuk cepat pulang ke kamar itu. Menikmati hari-hari bersama. Baskoro batal mengundurkan diri. Perempuan itulah yang membuat Baskoro yakin akan jalan yang dilewatinya sekarang. Meski kepenatan tak bisa dihindari, tapi Baskoro semakin memahami makna sebuah kerinduan dan kebahagiaan dalam hidup.
Dan malam ini, perempuan itu pergi. Dia merasakan kehilangan yang teramat sangat. Baskoro yakin, perempuan itu pun merasakan hal yang sama. Kehilangan!
Baskoro merasa mimpinya telah usai. Kini, perempuan itu telah kembali ke dalam dunianya sendiri. Kini, dia hanya mampu melihat perempuan itu dalam sebuah kotak berlayar 14inchi, bernama TELEVISI!