Vannesa Maria Sunanto, atau biasa dipanggil Vanya, blogger kawakan yang seringkali menulis ide-ide secara terbuka dan jujur di blognya.
Cerpen ini membuktikan selain menulis di blog, Vanya juga jago nulis cerpen.
"Pak, nanti jangan lupa ada janji sama Pak Irawan dari PT. Samudera Perkasa jam 3,” kata Inez, sekretaris Paul sambil membereskan berkas – berkas yang habis ditanda tanganinya.
“Udah tau! Emangnya selama ini saya pernah kelupaan kalo ada meeting penting? Emangnya saya kelihatan udah pikun?” hardik Paul keras sambil melotot ke arah Inez. Yang dibentak diam saja. Udah biasa, pikirnya dalam hati sambil melangkah keluar ruangan.
Saat sudah berada di luar, pikiran Inez kembali ke saat 5 tahun silam, saat Ia masih menjadi sekretaris baru di perusahaan tersebut. Saat itu dia masih menjadi sekretaris Pak Dimas, ayah Pak Paul.
Pertemuan pertama mereka terjadi saat Pak Paul, -ah bukan, saat itu Ia masih memanggilnya Paul, tanpa embel - embel apapun- datang ke kantor untuk menemui ayahnya. Saat itu Inez baru bekerja dan belum mengenal Paul. Iapun berusaha mati - matian mencegah Paul yang hendak nyelonong masuk ke kator ayahnya. Bahkan Ia sempat membentak Paul dengan keras. Betapa malunya Ia saat mengetahui hal yang sebenarnya. Tapi Paul malah tertawa terbahak - bahak. Sejak saat itu ia sering datang ke kantor ayahnya, hanya untuk menggoda Inez. Namun sejak kecelakaan yang merenggut nyawa Ayah dan Ibunya dua tahun yang lalu, Paul yang ceria seolah ikut terkubur bersama kedua orang tuanya. Ia merupakan satu - satunya orang yang selamat pada kecelakaan itu, walaupun harus menggunakan kursi roda sesudahnya. Tapi perubahannya bukan hanya itu. Paul berubah menjadi lelaki galak dan pemarah. Bahkan dalam kurun waktu 3 tahun rambutnya yang hitam telah berubah putih. Padahal umurnya baru 32 tahun. Tapi Inez tahu bahwa dibalik semua itu, Paul yang dulu masih ada. Paul yang baik. Sangat baik.
Bukan baru sekali didengarnya cerita tantang kebaikan Paul. Ibu Astri yang sakit tiba – tiba dipindah ke rumah sakit terbaik dengan dokter spesialis terhebat. Suami Mbak Nana yang dipecat dari pekerjaannya dipanggil bekerja kembali oleh perusahaannya dua hari kemudian. Bukan hanya kebetulan kalau pemilik rumah sakit dan pimpinan perusahaan tersebut adalah rekan bisnis Pak Paul. Ujang, sopir kantor yang rumah kontrakannya terbakar tiba – tiba menerima 10 juta rupiah di rekeningnya. Rekening di bank yang sama dengan yang digunakan perusahaan untuk mentransfer gaji karyawan. Belum lagi keempat anak Mang Idah yang uang sekolahnya mendadak terbayar lunas selama setahun. Inez tahu semua itu. Makanya dia betah bekerja dengan Pak Paul, betapapun galaknya orang itu.
Pada saat yang sama, orang yang dipikirkan oleh Inez sedang duduk di ruangannya sambil membaca. Tak lama kemudian buku tersebut dilempar dan Ia tampak menghela napas. Kemudian dahinya berkerut tanda sibuk berpikir, kemudian seolah mendapat ide cemerlang Ia menjentikan jari sambil tersenyum.
“Inez, tolong panggilkan Pak Andre ke sini,” kata Paul saat Inez masuk ke ruangannya sore itu.
Tak lama kemudian Andre pun datang. Andre merupakan sahabat terdekat Paul sejak dulu, dan sekarang Ia menjabat sebagai manager pada divisi IT di perusahaan itu.
“Kunci pintunya,” kata Paul begitu Andre menutup pintu. Yang disuruh pun segera melakukan yang diperintahkan.
“Gw mau loe bikinin gw cewe,” kata Paul segera setelah Andre membalikkan badan.
“Hah?” tanya Andre kaget.
“Iya, cewe. Pacar!!”
“Cariin maksud loe?”
“Bukan. Bikinin. Emang gw ngomongnya kurang jelas gimana lagi?”
“Pertama, kalo itu mau loe, loe harus nyediain gw cewe duluan. Kedua, loe harus nunggu sekitar 9 bulan supaya hal itu bisa dihasilkan. Itupun kalo langsung jadi dan jadinya cewe. Ketiga, barangkali loe harus lebih sabar lagi selama kurang lebih 20 tahun baru tu cewe bisa dipacarin. Saat itu loe udah bangkotan dan gw kayaknya gak bakalan rela anak gw jadian ama loe,” kata Andre berapi – api.
“Siapa yang nyuruh begitu?”
“Lah abis bikin gimana? Emangnya gw Tuhan bisa nyipatin orang?” kata Andre mulai kesal.
“Loe kan manager IT. Jago komputer. Gw mau loe ciptain tokoh virtual buat jadi pacar gw,” jelas Paul.
“Ooh,” kata Andre sambil mengangguk – angguk. Dia mulai paham dengan rencana Paul.
“Tapi inget, ini kan karakter bikinan, jadi loe harus bikin dia sesempurna mungkin!! Kalo enggak, awas!!” ancam Paul.
“Sempurnanya sesempurna apa?”
“Jangan terlalu sempurna sampe gw nyadar kalo dia bohongan, tapi cukup sempurna untuk bikin gw jatuh cinta,” kata Paul lagi.
“Waduh, yang kayak apa tuh?” kata Andre hampir putus asa.
“Nih gw udah bikin listnya, ntar loe kembangin sendiri,” kata Paul sambil menyodorkan sebuah kertas.
“Hmm.. cantik… pinter… cerdas…. Lah kok Cuma tiga?” tanya Andre kaget.
“ Kan gw bilang loe kembangin sendiri,” kata Paul sambil nyengir bajing.
“Duh, kenapa nggak nyari cewe idup aja, sih?” tanya Andre kesal.
“Loe pikir ya,” kata Paul sambil mendadak melompat dari kursi rodanya, membanting kacamata tebalnya dan menarik rambut palsunya dengan gemas.
“Gw ini pewaris perusahaan terbesar nomor tiga di Indonesia. Aset perusahaan ini gak bakalan abis dipake buat 9 turunan! Dengan jumlah kekayaan seperti ini emang loe pikir susah nyari pacar?” tanya Paul kesal.
“Nah kalo gitu kenapa juga repot?”
“Karena gw mau cw yang cinta sama gw. Bukan sama duit gw! Bayangin aja, gw yang cacat dan kayak gini aja banyak banget yang ngejar – ngejar, mana mungkin sih ada cewe yang mau ama orang kayak gw yang begini?” tanya Paul berapi – api.
“Lah katanya pada mau?”
“Iya, pada mau, tapi pasti mereka ngedeketin gw karena duit gw banyak!! Gw lumpuh dari pinggang ke bawah, Andre! Mana mungkin cewe ada yang mau kalo bukan cewe matre. Gimana mereka tau kalo gw sebenernya pura – pura,” keluh Paul sambil kembali duduk di kursi rodanya.
“Hmm, jadi loe maunya cewe yang kayak gimana?” tanya Andre setelah terdiam beberapa saat.
“Ya kayak gitu di kertas, gw ga ngerti juga gimana. Loe bikin lah yang bagus,” jawab Paul.
“Tapi jangan lama – lama!! Gw Cuma kasih waktu sebulan! Sekarang tanggal 31 Maret, kalo sampe akhir April belom selesai, loe gw pecat,” sambungnya lagi.
“Hmm.. akhir April. What say if we call this April Project?” tanya Andre.
“Terserah.”