April Project - Sebuah Antologi Cerpen Blogger Indonesia - 2005

 

 

April Project

(halaman 2 dari 3)

 

Hari - hari selanjutnya Andre jadi sering menemui Paul di ruangannya. Setiap kali datang Ia selalu membawa kertas – kertas berisi personality test yang harus diisi Paul.

“Ini buat nentuin sifat yang paling cocok sama loe,” jelasnya singkat ketika Paul mengeluhkan banyaknya soal yang harus dijawabnya.

“Iya tapi ini udah lewat dua minggu. Kapan loe mulai bikin programnya? Inget lho kalo sampe tanggal 30 April nggak selesai loe gw pecat,” ancam Paul.

“Iya gw tau. Udah loe jangan cerewet!!” bentak Andre. Hatinya agak galau. Ternyata permintaan Paul lebih sulit dari yang diperkirakannya. Sampai detik ini belum satu idepun muncul di otaknya.

Saat keluar ruangan dilihatnya Inez sedang melamun di mejanya.

“Nah ya Inez ngelamun. Bilangin Boss nih,” godanya.

“Eh Bapak. Udah selesai, Pak? Bapak jadi sering ke sini.ya. Biasanya lama, tumben sekarang cepet,” tanya Inez.

“Tau nih, pusing. Boss - loe gila!!” kata Andre kesal.

“Kenapa sih Pak? Ada yang bisa saya Bantu?”

“Hmm… kayaknya enggak dulu. Tapi… eh gimana kalo…. Sini deh kamu…..”

 

“Pak, saya mau cuti,” kata Inez tiga hari kemudian.

“Nggak bisa, kita lagi repot,” jawab Paul singkat.

“Saya cuma cuti sepuluh hari. Udah saya selesaikan semua hal yang penting untuk dua minggu ke depan. Saya juga udah minta Diana dari marketing untuk gantiin saya selama saya cuti. Lagipula sejak pertama kali bekerja saya belum pernah menggunakan jatah cuti saya.”

“Memangnya kamu mau kemana?”

“ Ada urusan yang harus saya kerjakan.”

“Nggak bisa sepuluh hari. Kelamaan. Kalau mau seminggu aja.”

“Nggak bisa, urusan saya penting.”

“Kalau ngeyel kamu saya pecat!”

“Pecat aja”

“Kamu nantang?”

“Enggak. Saya Cuma minta cuti.”

“Kamu mau pindah kerja ya? Dapet tawaran lebih bagus? Kalau minta naik gaji jangan begini caranya!”

“Nggak! Saya juga nggak mau berenti, Bapak yang ngomong begitu.”

“Ya udah sana terserah kamu! Awas kalo lebih dari sebulan saya pecat beneran!!”

“Makasih pak”

“Hmm”

“Hey.. kenapa loe mutung begitu?” tanya Andre begitu memasuki ruangan.

You better bring me good news; I’m on a very bad mood!”

“Hahaha, nggak kok. Nih…” kata Andre sambil menunjukkan sekeping CD

“Apaan tuh?”

April project is finally done! Sini gw install ke komputerloe.”

Tanpa menunggu jawaban Andre segera mendorong kursi Paul menjauhi meja, dan mulai menginstall program tersebut ke laptop Paul.

“Inget ya, setiap kali make program ini loe harus selalu connect ke internet.”

“Buat apa?”

“Ya, gw kan harus updatepersonality cewe ini setiap saat”

Jawaban Andre dirasa Paul kurang memuaskan, namun Ia malas bertanya lebih lanjut.

“Ya udah. Thanks ya,”

“Segitu doang?”

“Mauloe?”

“Bonus doong…”

“Ya udah, gampang ntar gw transfer. Udah sana minggat deh loe yang jauh. Gw banyak kerjaan. Mana si Inez pake cuti, lagi.”

“Inez? Cuti? Masa?”

“Iyeee… kenapa loe pake senyum – senyum?”

“Nggak papa, ya udah, gw cabut. Bisa nggak make programnya? Musti diajarin nggak?”

“Gw emang bukan sarjana computer, tapi gw kan nggak segitu begonya!!!”

“Iyaa sorry…. Hehehehe” kata Andre sambil meninggalkan ruangan.

Selepas kepergian Andre, Paul segera menjalankan program tersebut. Sebelumnya tentu saja ia mengunci pintu terlebih dahulu.

“Welcome Paul, To April Project”

Demikian kalimat pembuka program tersebut. Kemudian sesosok wajah virtual muncul di layar komputer.

“Cantik,” kata Paul sambil tersenyum.

“Hai,” ketiknya

“Hai juga, Paul,” muncul balasan di layar

“Nama kamu siapa?”

“Nggak tau.”

“Kok?”

“Aku belom dikasih nama. Kamu yang musti ngasih aku nama.”

“Oh, Ok. Gimana kalo aku panggil kamu… hmmm Princess?”

Nice,” wajah di layar itu tersenyum.

“Princess, kamu tahu kalau aku punya perusahaan yang besar? Kalau aku kaya dan pandai?”

 ke atas

“Tau.”

“Aku juga tampan.”

“Lalu?”

“Kamu tidak terkesan?”

“Haruskah?”

“Ya enggak, tapi biasanya orang yang tahu akan hal itu akan kaget dan berusaha ngebaik – baikin aku.”

“Aku kan bukan orang kebanyakan.”

“Oh iya.”

“Kita bisa ngobrol?”

“Emangnya dari tadi kita ngapain?”

“Oh iya. Hmm, apa lagi ya?”

“Nggak tau. Udah ah. Aku capek. Nanti ngobrolnya sambung lagi, ya”

Lalu dengan tiba – tiba mata Princess menutup, dan muncul tulisan I’m sleeping right now. Catch you later.

Dengan panik Paul memanggil – manggil Princess. Namun tak muncul jawaban.

Segera Ia menelepon Andre.

“Eh kunyuk!! Dia tidur!!”

“Siapa?” tanya Andre heran.

“Cewe gw!! Dia tidur!!”

“Lah dia capek kali.”

“Dia kan tokoh virtual! Mana bisa capek?”

“ Kan loe minta dibuat semirip mungkin dengan aslinya?”

“Oh jadi gitu?”

“Iya, sabar aja,” kata Andre sambil memutuskan hubungan. Paul pun termangu di kursinya.

“Princess, kamu udah bangun?” tanya Paul sore harinya.

“Hey, cranky old man.”

I’m not that old. And who says that I’m cranky?

I know you too well

How come?

I was created to fit your personality, remember?

Aaah I see

“Kenapa kamu minta aku diciptakan?”

“Haruskah kujawab?”

Yup

Why?

Because u’re my boyfriend. I supposed to be the one u share with

“Karena aku mencari wanita yang mencintai aku apa adanya.”

“Tak dapatkah kau temukan dia di dunia nyata?”

“Tak ada yang tulus mencintai aku. Mereka cinta hartaku.”

“Kenapa kamu berpikir begitu?”

“Aku berpura – pura cacat. Aku mengenakan rambut palsu dan memakai kacamata. Aku menciptakan karakter yang sangat buruk, namun semua wanita yang mendekatiku seolah tak melihat itu. Mereka bersikap seolah – olah aku sempurna. Mereka cinta uangku.”

“Pernahkah kamu berusaha mencari cinta?”

“Tidak. Terlalu banyak yang datang, tak satupun membawa cinta.”

“Kamu manja.”

excuse me?

“Kamu manja!! Kamu menginginkan cinta, tapi tak berusaha mencari! Kamu sehat tapi berpura – pura cacat! Kamu menyia – nyiakan hadiah Tuhan untukmu. Kamu pikir dengan bertindak seperti orang cacat kamu bisa menebus rasa bersalahmu karena kamu selamat dari kecelakaan yang merenggut nyawa orang tuamu? Kamu manja! Apa yang kamu mau? Kamu mau orang menyediakan semuanya di hadapanmu untuk kamu santap, tapi begitu itu tersedia, kamu membuangnya!!”

“Kenapa kamu tahu?”

“Aku kekasihmu.”

Paul terdiam menatap layar computer di hadapannya. Lalu dia menundukan kepala sambil mendorong laptopnya menjauh.

 
1 2 3
Untuk menjadi perhatian,
semua tulisan di sini adalah karya dan hak cipta penulis masing-masing. Dilarang menerbitkan kembali tulisan cerpen (dalam bentuk apapun), tanpa sepengetahuan dan seizin penulis yang bersangkutan.
Copyright ©2007 Designed by cinila.com  - contact