“Princess, maaf. Kamu akan kumusnahkan.”
“Maksud kamu?”
“Aku akan memusnahkan program ini. Aku tak akan memanggilmu lagi.”
“Kamu marah padaku?”
“Tidak. Aku cinta kamu.”
“Lalu mengapa?”
“Karena kamu tidak nyata.”
“Kamu yang meminta aku diciptakan.”
“Aku tahu. Tapi kamu menyadarkanku.”
“Apa yang akan kamu lakukan?”
“Aku akan membuang kursi rodaku juga. Aku akan melepas rambut palsu dan kacamataku. Aku akan mencari cinta.”
“Secepat itu?”
“Maksudmu?”
“Tak kukira akan secepat ini merubah pendapatmu. Ternyata kamu tidak sekeras yang aku kira.”
“Aku tidak keras. Tapi tidak ada yang pernah melawanku, jadi aku tak punya kesempatan mengalah.”
“Begitu?”
“Ya. Maaf, aku harus memusnahkanmu. Terima kasih.”
“Tak apa. Aku cinta kamu.”
“Aku juga. Good bye my love. Aku akan selalu cinta kamu.”
“Aku juga. Bye.”
Kemudian Paul mematikan program tersebut, dan menghancurkan kepingan CD itu dengan kakinya. Hatinya terasa ringan. Tapi sedih, memikirkan cintanya yang hilang.
Di saat yang sama, dua puluh kilometer dari tempat Paul, Inez terpekur menatap layar computer di hadapannya. Ia sedih. Ia sungguh cinta Paul. Cutinya masih tersisa sembilan hari. Sembilan hari lagi untuk bertemu Paul. Sembilan hari lagi untuk mulai bertarung mendapatkan cintanya.
“Done!!!” kataku sambil meng - click icon Post and Publish di halaman bloggerku. Kalau tak ada yang mau menerbitkan cerpenku, biarlah. Akan kupublikasikan sendiri karyaku. Paling tidak blog – ku punya banyak pengunjung yang bersedia membacanya. Komennya instant lagi, pikirku senang.